Latar Belakang Acara

Posted on Maret 17, 2012

0


Bangkit Memperbaiki  Negeri Bencana

Borobudur bukan hanya lahan industri wisata. Dua tahun yang lalu ia menjadi saksi jerit vulkanik Merapi mengguncang bumi Jawa. Alam Nusantara pun kini tak lagi mau bersahabat. Bahkan di atas bentang tanah air ini, masyarakat Indonesiaikut memberi bukti-nyata. Antar pribadi warga negeri ini, makin gigih saling peras dan tindas dalam keterpecah-belahan. Lengkaplah sudah, Negeri Nusantara yang berfitrah makmur-bersahaja ini menjadi Negeri yang sering dilanda bencana.

Borobudur hanya salah satu saksi ketika bencana demi petaka merajam pertiwi Indonesia. Apakah keadaan dapat diperbaiki? Jawabannya terletak pada keyakinan. Bukankah manusia dan alam adalah biasan kemaha-pemurahan Sang Pencipta? Maka, manusia berketuhanan pasti yakin, bahwa keadaan bisa diperbaiki. Jika ia berketuhanan, ia pasti berperi-kemanusiaan. Hanya manusia berperi-kemanusiaan saja yang tergerak ikut melestarikan kehidupan di ruang hunian sesamanya. Itulah fitrah manusia. Saling-beri, bukan saling-minta.

Borobudur sebagai Titik Awal, Bambu sebagai Material

Mari kita kembali ke fitrah kita masing-masing. Kita mulai dari Borobudur, lambang sekaligus saksi sejarah kemanusiaan lokal-universal. Bagaimana menerapkan dorongan tersebut sesuai dengan sifat-keadaan kekinian dusun-dusun di sekitarBorobudur?

Sepanjang 7 kilometer jalan dari Desa Wanurejo ke Desa Tegalarum, adalah garis lurus menuju Borobudur. Dusun-dusun di kawasan ini adalah dusun petani, peseni (topeng ireng, pitutur-shalawat, batik, patung batu, dan sebagainya), juga perajin dan pasar kerajinan bambu (di Tegalarum). Ada hal yang tampak sepele yang dahulu kala pernah ada, yang sangat perlu dicatat. Di jalur ini, masyarakat selalu menyediakan air minum di kendi untuk para pemakai jalan . Itulah bukti nyata keramah-tamahan Nusantara, bukan hospitality culture  rekayasa untuk industri wisata. Kita mengambil jalur tersebut untuk bersama warga setempat, merakit lambang kebangkitan kemanusiaan –berwujud “gapura”, yang bisa saja berupa “instalasi” atau “media ruang” berbahan dasar bambu.

Bukan saja rebung-nya menjadi salah satu bahan lauk Nusantara, tetapi bambu juga material utama peradaban rakyat: alat pertanian, kerajinan, rumah, jembatan, dan lain-lain.

Ketika hutan hampir musnah, bambulah harapan rakyat. Bambu adalah simbol cultural, social, dan eco- sustainability rakyat. Itu sebabnya kita memakai bambu sebagai simbol potensi rakyat. Sebatang bambu mewakili puluhan anak negeri yang peduli, dan jutaan lagi yang menanti, untuk ikut andil memperbaiki pertiwi Nusantara.

Merajut Bambu Seribu Candi
Satu permohonan pada yang Ilahi
Setitik peduli untuk membangun negri
Antara kemanusiaan dan keberdayaan
Tentang kebersamaan dan keberdayaan bersama
Sepuluh ribu bambu mewakili puluhan ribu anak negri yang peduli, dan
Jutaan lagi menanti, ikut andil berdayakan nusantara, Ibu pertiwi
Ingin Indonesia merdeka sekali lagi, bangkit, mandiri dan berjati diri
Bangkitlah Indonesia, wahai ibu nagari, ibu dari segala nagari
Untuk berdaya dan tetap peduli 
About these ads
Posted in: Uncategorized