design review untuk candi pawon dan taman posko, 13 april 2012

Posted on April 17, 2012

0


Salam semua,

Berikut saya sampaikan reportase hasil kunjungan hari jumat tanggal 13
april supaya bisa menjadi catatan yang lebih jelas. Sepertinya
terpaksa ada intervensi yang agak banyak. Hal ini semata-mata reaksi
dari situasi yang dihadapi di lapangan (pak Paulus barangkali bisa
menjelaskan situasinya dengan lebih rinci). Harus bisa dilaksanakan
semudah mungkin adalah pertimbangan utama, yang bahkan dengan situasi
tidak ada tukang atau tenaga ahli sekalipun masih mempunyai peluang
untuk dilaksanakan. Hal pertama yang dilakukan haruslah mempersiapkan
bahan karena yang didapat bukan bambu yang sudah bersih dari ranting
dan bulu bambu. Inipun membutuhkan waktu. Kemudian membersihkan dan
treatment lain yang diperlukan. Lalu masih memilah pengelompokan
berdasar panjang. Ini bisa memakan beberapa hari. Mendirikan jajaran
bambu pun ternyata bukan hal yang mudah untuk orang yang awam dengan
bambu.

Detil dari reaksi atas situasi yang ada adalah seperti ini (dengan
gambar terlampir) :

01. Di Candi Pawon, hanya membuat bangku-bangku panjang dari tiga
bambu (bisa dibuat sepanjang mungkin, maksimal 6m) yang bisa dipakai
sebagai tempat duduk yang menonton pertunjukan. Konfigurasinya bisa
bebas, asalkan membentuk ruang panggung dan penonton. Sisa potongan
ujung kecil bisa disusun untuk menutup pagar brc, disandarkan saja,
bisa dicampur juga dengan bambu yang besar karena mungkin jumlahnya
kurang. Pada dasarnya hanya “membersihkan” obyek-obyek kecil didepan
candi, sehingga candi bisa menjadi background utama dengan lebih kuat,
sekaligus membuat ruang panggung lebih ter-definisi.

pawon 1
halaman depan candi pawon yang digunakan untuk ruang pertunjukan seni

pawon 2

pawon 3lincak/bangku yang digunakan untuk duduk penonton pertunjukan
dan rangkaian potongan pucuk bambu untuk "menghubungkan" candi pawon dan ruang halaman candi pawon

 

02. Depan Posko. Tempat ini dijadikan titik utama karena beberapa
alasan. Bambu tidak harus diangkut dengan mobil pick-up karena
ternyata membutuhkan waktu bolak-balik yang cukup lama dan tenaga naik
turun yang cukup besar. Jajaran bambu untuk  membentuk ruang penonton
dan pertunjukan membelakangi jalan utama dengan jarak 15 cm. Instalasi
arsitektur yang sudah dirancang teman-teman yang lain bisa ditaruh
dalam dua titik, Kegiatan pertunjukan dan acara lain juga akhirnya
difokuskan dititik ini sekaligus. Hal ini juga karena pada akhirnya
kita hanya berinteraksi dengan wilayah RT ini.

posko 1
berada di taman depan posko wanurejo, sebagai ruang selebrasi

posko 2
sebuah celah besar ditujukan tidak menutup sebuah stupa di ujung timur taman

posko 3
penjor bambu yang memberi batas dan menciptakan ruang dengan bambu, mempertegas rajutan bambu di wanurejo

posko 4
perspektif dilihat dari ujung barat, membentuk sebuah gerbang
dan ada tambahan instalasi arsitektur 1 berupa shelter yang memanfaatkan tiang bendera dan rangkaian bambu
instalasi arsitektur 2 bisa memasang rajutan sisa bambu yang dipasang menggunakan penjor bambu melengkung di atas gerbang

03. Bale Ajar Tegal Arum. Sepertinya belum ada rancangan atau
pemikiran disini. Saya akan usahakan memikirkan sesuatu sebagai backup
saja jika sampai selasa nanti belum ada usulan apapun.

[hari Senin 16 april 2012. pak Mad Cahyo kembali meninjau lokasi di desa Tegalarum, dan ada beberapa hal terkait kemungkinan menggunakan sebuah rumah di sebelah mushola yang sudah tidak terpakai. sehingga bambu yang sudah ada bisa dioptimalkan untuk membuat fasilitas lain untuk melengkapi sebuah fungsi balai ajar]
Kira-kira seperti itu reaksi yang ada dari kunjungan kemarin. Mungkin
bisa dijadikan referensi untuk pengambilan-pengambilan keputusan di
lapangan selanjutnya. Hasil briefing yang lebih lengkap mungkin pak
Paulus juga bisa menambahkan jika ada yang belum tersampaikan dalam
email ini. Demikian yang bisa saya sampaikan.

Terimakasih,
salam

mamo

About these ads
Posted in: Uncategorized